Blogroll

Jumat, 19 Mei 2017

Pulau Penyengat Inderasakti


Kalau liburan ke Tanjungpinang tak lengkap rasanya bila tak singgah ke Pulau Penyengat. Pulau yang berjarak sekitar 2 KM dari pusat kota Tanjungpinang ini bisa ditempuh dengan menggunakan perahu bermotor yang biasa disebut pompong. Dari pelantar (pelabuhan) kuning kita naik pompong ke Pulau Penyengat sekitar 15 menit dengan ongkos hanya 7k sekali jalan. Pompong ini berkapasitas 15 orang dan semua penumpang wajib menggunakan life jacket untuk keselamatan.

Pulau ini berukuran panjang 2.000 meter dan lebar 850 meter. Asal mula kenapa pulau ini disebut Penyengat, konon katanya para pelaut berabad-abad yang lalu selalu singgah di pulau ini untuk mengambil air tawar. Di pulau ini terdapat banyak terdapat hewan sebangsa serangga yang memiliki sengat. Menurut cerita, para pelaut tersebut melanggar patang-larang ketika mengambil air yang akhirnya mereka disengat oleh serangga berbisa. Hewan ini yang kemudian dipanggil penyengat dan pulau ini terkenal dengan nama Pulau Penyengat.   

Terdapat beberapa bangunan bersejarah di pulau ini. Diantaranya adalah Masjid Sultan Riau, Istana Kantor, Makam para Raja, Balai Adat Melayu, Benteng Bukit Kursi, dan masih banyak lagi. 

Disini saya akan membahas beberapa bangunan bersejarah di Pulau Penyengat yang instagramable untuk dibagikan di media sosial. Cekidot guys,,,,

1. Masjid Raya Sultan Riau 

Masjid Raya Sultan Riau atau disebut juga Masjid Sultan Riau merupakan salah satu masjid tua dan bersejarah di Indonesia yang berada di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Masjid ini mulai dibangun sekitar tahun 1761-1812. Masjid ini merupakan salah satu masjid unik karena salah satu campuran bahan bangunan yang digunakan adalah putih telur.

2. Istana Kantor

Istana Kantor adalah istana dari Yang Dipertuan Muda Riau VIII Raja Ali (1844-1857), atau juga yang disebut dengan Marhum Kantor. Selain digunakan sebagai kediaman, bangunan yang dibangun pada tahun 1844 ini juga difungsikan sebagai kantor oleh Raja Ali. Istana Kantor berukuran sekitar 110 m2 dan menempati areal sekitar satu hektar yang seluruhnya dikelilingi tembok. Bangunan dan puing yang masih ada memperlihatkan kemegahannya pada masa lalu.

3. Balai Adat Melayu



Balai Adat Pulau Penyengat adalah replika rumah adat Melayu yang pernah ada di Pulau Penyengat. Bangunan Balai Adat merupakan rumah panggung khas Melayu yang terbuat dari kayu. Balai Adat difungsikan untuk menyambut tamu atau mengadakan perjamuan bagi orang-orang penting. Di dalam gedung, kita dapat melihat tata ruang dan beberapa benda perlengkapan adat resam Melayu, serta berbagai perlengkapan atraksi kesenian yang digunakan untuk menjamu tamu-tamu tertentu. Di bagian bawah Balai Adat ini terdapat sumur air tawar yang konon sudah berabad lamanya dan sampai sekarang airnya masih mengalir dan dapat langsung diminum.

4. Benteng Bukit Kursi

Pulau Penyengat dijadikan sebagai benteng pertahanan kerajaan dari serangan Belanda pada tahun 1782. Bukit kursi ini merupakan salah satu bukti kekuatan kerajaan Riau-Lingga yang kala itu dipimpin Raja Haji Fisabilillah Yang Dipertuan Muda Riau IV. Ada 3 benteng pertahanan yang dibangun di pulau Penyengat ini yaitu Benteng Bukit Senggawe, Benteng Bukit Kursi dan Benteng Pulau Siantan. Benteng pertahanan ini dulunya memiliki 90 meriam sebagai pertahanan dari serangan Belanda.

5. Rumah Tabib



Rumah Tabib ini terletak di jalan Tabib, tak jauh dari makam Engku Puteri Raja Hamidah. Bangunan ini sekarang tinggal tembok tanpa atap dan ditumbuhi akar pohon. Bangunan ini sangat instagramable buat selfie2. Tak jarang para salon pengantin mengambil lokasi foto prewedding dibangunan ini.

6. Rumah Hakim

Rumah hakim ini juga tinggal temboknya saya. Tak kalah instagramable nya dengan bangunan rumah tabib. Tapi sayang tempatnya yang agak masuk kedalam membuat orang2 banyak yang tidak tau.

Sambil menunggu pompong yang akan mengantarkan saya untuk pulang ke Tanjungpinang, saya berbincang-bincang dengan penduduk asli Penyengat. Menurut beliau pulau ini merupakan mas kawin dari Sultan Mahmud Syah kepada Engku Putri binti Raja Haji Syahid Fisabilillah. Dulunya pulau Penyengat ini tidak menyatu, terpisah oleh parit besar. Para pelaut dulu yang singgah ke Penyengat menambatkan perahu nya di depan Istana Kantor. Parit besar tersebut kini mengecil seiring dengan perkembangan zaman.

Mungkin hanya itu saja yang bisa saya bagikan buat temen-temen semua. Sekali lagi saya ingatkan mari kita majukan pariwisata di Provinsi Kepulauan Riau ini. Silahkan datang dan saksikan sendiri keindahan alam dan sejarahnya.

0 komentar:

Posting Komentar